Rabu, 20 Maret 2013

PENGARUH TV MANUAL DAN TV INTERNET

TV DAN TV INTERNET - Televisi memang bukan kotak Pandora penyebar wabah dan teror di muka bumi ala mitologi Yunani. Tapi, efek televisi, mungkin hanya bisa dikalahkan oleh kotak pandora. Para ilmuwan komunikasi tak melihat televisi sebatas alat menghibur diri bagi keluarga. Persoalannya menjadi lebih kompleks, dari sekadar tertawa melihat film kartun atau turut mengharu biru seperti kisah sinetron. Sekarang selain TV, juga ada varian baru TV Internet, TV digital dengan perkembangan jaman perubahan itu mulai terjadi.
Tahukah Anda, televisi pelan tapi pasti mengambil peran guru di sekolah dan orangtua di rumah dalam hal menanamkan nilai dan pembentukan karakter, percaya atau tidak. Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam penelitiannya menyebut, anak-anak menyaksikan televisi sekitar 5,8 jam sehari. Bila hari Sabtu dan Minggu, kuantitasnya bertambah menjadi 8 jam.
Padahal, tak semua yang ditayangkan televisi bisa memberikan hal yang bermanfaat. Alih-alih pendidikan, yang didapat justru anak-anak kita menjadi agresif, konsumeris, bahkan dewasa sebelum waktunya. Sebab, pada dasarnya industri penyiaran adalah sama halnya industri lainnya, mereka mengejar laba. Bedanya, mereka mengejar laba di frekuensi yang dimiliki publik, yang bisa saja gratisan. Namun untuk membiayai ongkos produksi mereka mengikuti selera pasar.
Selera pasar ini bisa diraba dari lembaga survei yang memberi peringkat suatu acara, semisal AC Nielsen. Bila film – misalnya Panji Tengkorak — yang dipenuhi adegan kekerasan dan pemain berkostum seksi, laris manis. Selalu nangkring di papan atas AC Nielsen, maka stasiun televisi terus memproduksi film atau sinetron sejenis, dengan berbagai varian. Sialnya lagi, selera masyarakat mirip-mirip, sehingga anak-anak kita tercinta tak diberi alternative yang memadai, untuk nonton film atau tayangan yang sehat.
Imbasnya mudah ditebak. Dalam teori komunikasi, dikenal adanya media exposure ¬atau teori terpaan media. Semakin sering manusia terpapar televisi mereka akan menyerap nilai lalu bertingkah laku seperti yang diajarkan televisi. Sadar atau tidak televisi menjadi semacam trend setter. Televisi adalah tempat hiperealitas, di mana fakta, khayalan, imajinasi, rayuan, direkonstruksi seolah-olah adalah realitas yang harus dianut dan ditiru dalam kegiatan sehari-hari.
Film-film kekerasan dan sinetron membuat nilai dalam keluarga tergerus sedikit demi sedikit. Kekerasan-kekerasan fisik dalam televisi yang dipadukan dengan kekerasan simbolik dalam bentuk kata, membuat seseorang meyakini televisi adalah kebenaran. Parahnya lagi, di sekolah anak-anak yang terkontaminasi ini, ingin menunjukkan diri mereka sebagai pusat perhatian, karena tidak ketinggalan zaman – sebagaimana televisi mendidik mereka.
Akibatnya, anak-anak yang mereka anggap ketinggalan zaman menjadi sasaran empuk perploncoan. Mereka yang ingin unjuk kekuatan pada akhirnya mencari pelampiasan dengan tawuran. Toh, sejatinya, manusia bukanlah khalayak pasif – dalam teori jarum suntik ilmu komunikasi. Manusia sebenarnya bukanlah makhluk yang pasrah menerima pengajaran dari televisi. Sebab pada dasarnya manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah, apa yang menjadi keyakinan mereka benar.
Namun, proses pemilihan dan pemilahan ini, di kognitif atau alam pikiran manusia harus dibekali terlebih dahulu dengan filter atau penyaring. Penyaring inilah yang disebut nilai atau norma, atau juga adab. Norma atau nilai biasanya telah ditanamkan dalam sekeluarga secara turun temurun, dalam bentuk pelajaran mengenai kejujuran, keadilan, tenggang rasa, saling menyayangi, damai, hingga toleransi. Sementara, agama memberi landasan yang kuat, dalam bentuk segala kebaikan atau amal saleh berbuah surge di hari kemudian.
Maka itu, anak-anak kita tercinta bisa dijauhkan dari kekerasan sepanjang orangtua terus menanamkan nilai. Anak-anak diberi hikmah untuk memilih dan memilah mana yang baik dari televisi. Walhasil, menjadi sangat penting, bahwa anak-anak harus didampingi saat menonton. Agar mereka tahu mana yang pantas ditiru atau diabaikan, dan mana acara yang pas untuk usia mereka.
Sesibuk apapun orangtua harus mengawasi apa yang disaksikan anak-anak, juga membatasi jam menonton, dengan menggantinya dengan berkomunikasi yang hangat dengan keluarga. Mencipatakan berbagai kegiatan positif dalam keluarga, berdiskusi atau memberi problem yang harus dipecahkan oleh mereka.
Di hari libur, anak-anak didorong untuk melakukan kegiatan luar ruangan dengan kawan-kawan mereka. Agar saraf motorik mereka bekerja, hingga mereka menjadi lebih kreatif dan memiliki hubungan manusia yang baik antara satu sama lain. Tidak menjadi anak yang egois, karena tidak pernah melakukan kehidupan sosial dengan kawan-kawan mereka. Setidaknya itulah cara menghilangkan kekerasan dari rumah kita, yang turut berkontribusi mengurangi kekerasan di sekolah atau di area publik. Dengan begitupula, televisi tak lagi jadi kotak pandora. TV Internet bisa jadi tambahan baru bagi para orang tua untuk meningkatkan pengawasannya terhadap tontonan anak-anak.
Sumber : Nuansa Online

Kamis, 20 Agustus 2009

GUBERNUR KEPRI MULAI PEMBANGUNAN PONPES ABDUL DHOHIR

Pembangunan Ponpes Abdul Dhohir - Batam merupakan pusat pertumbuhan ekonomi nasional, letaknya secara geografis sangat strategis yang langsung berhadapan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan sebagainya. Visi Kota Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional hanya bisa terwujud kalau para pelakunya adalah mereka yang berakhlak mulia. Untuk bisa berakhlak mulia maka diperlukan sebuah pendidikan yang bisa memberikan para siswanya bekal ilmu pengetahuan dan akhlak yang baik. Pembangunan Ponpes merupakan salah satu upaya untuk memberikan pendidikan akhlak kepada para santri.

Untuk menjawab tantangan itu LDII sebagai salah satu ormas Islam Nasional di Indonesia turut serta dalam merintis pembangunan Pondok Pesantren Miftahul Huda di Batam. Pondok ini nantinya diharapkan menjadi ponpes modern dan bahkan bertaraf internasional yang dapat memberikan bekal bagi para santrinya untuk belajar agama Islam yang benar sesuai dengan tuntunan dan pedoman umat Islam, yaitu Al- Quran dan Hadits. Sebagai pondok bertaraf internasional.

SEKILAS PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA ABDUL DHOHIR

Pondok Miftahul Huda akan dibangun di area Yayasan Miftakhul Huda Patam Asri Kecamatan Sekupang, Batam. Lokasi tersebut tak jauh dari terminal ferry penyeberangan ke Singapura, Malaysia dan Kepulauan Riau lainnya. Pembangunan pondok tersebut dilakukan di atas areal seluas 7500 meter persegi dimana akan dibangun masjid, asrama putra dan asrama putri. Pondok bertaraf internasional ini akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung lainnya seperti lapangan basket, perpustakaan dan sebagainya. Pondok ini dapat menampung sekitar 240 orang santri putra dan santri putri.

Ketua Panitia Pembangunan Bpk. H. Hurman, SH memperkirakan pembangunan pondok ini akan menelan dana sebesar Rp. 9 miliar. Adapun untuk tahap pertama pembangunan sudah tersedia dana sebesar Rp. 3 miliar. Dana tersebut merupakan hibah Bapak Budi Santoso dari Yayasan Abd. Dhohir Jakarta.

Namun panitia pembangunan juga bersedia menerima sumbangan dari masyarakat yang ingin turut membelanjakan hartanya fisabilillah dalam pembangunan pondok ini.

Setelah beberapa saat ditunggu oleh para undangan yang tak sabar menanti, akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga di lokasi. Pukul 11.00 WIB Bapak H. Ismeth Abdullah beserta rombongan tiba dilokasi ditemani oleh Ketua LDII Kepulauan Riau

SEREMONIAL PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN PONPES

Bapak H. Abdul Manaf Chan memasuki areal pembangunan. Kedatangan orang nomor satu di Kepulauan Riau itu turut disambut oleh pertunjukan Seni Beladiri dari Persinas asad.Setibanya didepan podium, Bapak Ismeth Abdullah disambut oleh para undangan VIP dan tepuk sorak kegembiraan warga LDII Batam.

Dalam kata sambutannya, Bapak Gubernur Propinsi Kepulauan Riau menyatakan sangat bahagia melihat tekad yang kuat untuk membangun ponpes tersebut. Beliau memulai dengan sebait pantun, "Dari Bengkong ke Batu Aji, pulangnya mampir di Patam Lestari, Peletakan Batu pertama dimulai siang ini, semoga warga LDII sehat sejahtera dalam ridho ilahi…." disambut tepuk tangan hadirin.

"Alhamdulillah kita dapat memulai suatu pembangunan ponpes yang lengkap fasilitasnya. Banyak ponpes di Batam, tapi kecil-kecil. Oleh karena itu kami bersyukur LDII seperti apa yang kita lihat siang hari ini membangun ponpes yang lengkap dengan fasilitasnya dapat terwujud dalam waktu….berapa bulan? Sembilan Bulan. Insya Allah. Sembilan Bulan? Dalam sembilan bulan, lahir satu bayi." selorohnya disambu t tepuk tangan dan gelak tawa gembira para undangan. "Mudah-mudahan Allah meridhoi, " lanjutnya

Puncak acara pada hari itu adalah prosesi peletakan batu pertama dipimpin langsung oleh Gubernur Kepulauan Riau Bapak Drs. H. Ismeth Abdullah. Turut hadir menyaksikan langsung dalam acara tersebut antara lain :
Ketua Umum LDII Bapak Prof. Dr. Ir. KH. Abdullah Syam, MSc.

Donatur Bapak H. Budi (yang mewakili)

Ketua DPRD Kepri, Bapak. Nur Syafriadi
Walikota Batam (yang mewakili)

Ketua Badan Pengusahaan Kawasan Batam (pengganti Otorita Batam) diwakili oleh Bapak Daniel

Kakanwil Depag Propinsi Kepulauan Riau, Bapak Drs. H. R. Wijaya

Ketua LDII Kepulauan Riau, Bpk Drs. H. Abdul Manaf Chan

Ketua MUI Bpk KH. Azhari Abbas, Unsur Muspida Kota Batam, Perwakilan Ormas Batam, para undangan VIP lainnya, warga LDII Batam.
Peletakan batu pertama oleh Bpk. H. Ismeth Abdullah

Peletakan batu pertama oleh Bpk. H. Ismeth Abdullah

Momentum peletakan batu pertama itu menandai sebagai tonggak dimulainya pembangunan pondok pesantren Miftahul Huda. Pembangunan pondok tersebut diperkirakan selama 9 bulan dengan menelan biaya tak kurang dari Rp. 9 miliar. Jadi, diperkirakan Insya Allah pada bulan September 2009 pembangunan tersebut sudah rampung untuk kemudian diresmikan pada bulan Januari 2009.

Pondok ini berpotensi menjadi ponpes kebanggaan dan ikon baru bagi warga Batam. Disela-sela alunan musik kidung-kidung religius Bapak Dicky dari Yayasan Abdul Dhohir Jakarta yang bertindak selaku MC pada acara tersebut menyampaikan pesan-pesan menghibur para undangan sembari menunggu Gubernur Kepulauan Riau dengan yang sabar . "Pondok pesantren Miftahul Huda sebagai tempat pendidikan putra-putri kita dan bakal menjadi bentengnya moral bangsa Indonesia supaya tidak tergerus oleh arus budaya asing yang bertentangan dengan agama dan nilai-nilai luhur bangsa. Sehingga putra-putri kita selamat mengarungi kehidupan menuju ke alam dewasa dan muncul sebagai potensi-potensi pembangunan di Indonesia. Semoga…" ingkapnya disambut alunan kidung-kidung islami.

Untuk itu LDII meminta dukungan dan doa restu dari semua pihak atas pembangunan ponpes ABDUL DHOHIR ini, semoga pembangunan tersebut dapat berjalan dengan lancar, aman, selamat dan mendapat ridho dan barokah dari Allah SWT. Amin. (rph/0109)